
Internasional hulunews.net – Sejumlah pengunjuk rasa menunjukkan sikap protes terhadap Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dalam unjuk rasa pada peringatan Hari Buru atau May Day, yang jatuh pada 1 Mei 2019.
“Macron apa yang telah Anda lakukan kepada kami,” kata salah satu pengunjuk rasa sambil membawa spanduk yang bernada protes seperti dilansir Reuters pada Rabu, 1 Mei 2019.
Seorang pengunjuk rasa lainnya membawa spanduk bertuliskan.”Inilah penjahatnya.” Spanduk itu berisi gambar Macron dan Presiden Komisi Uni Eropa, Jean-Claude Juncker. Juga ada foto Direktur Pelaksana IMF, Christine Lagarde.
Pemerintah Prancis memperkirakan ada 164.500 orang turun ke jalan di berbagai kota saat perayaan Hari Buruh ini. Sekitar 28 ribu orang berparade di ibu kota Paris.
Sementara organisasi buruh berhaluan kiri CGT melansir sekitar 310 ribu warga turun ke jalan termasuk 80 ribu di Paris.
Ribuan orang terpantau berunjuk rasa di kota-kota besar seperti Marseilles, Bordeaux dan Lyon. Sebanyak 300 orang pengunjuk rasa yang mengenakan rompi kuning mencoba menyerbu kantor polisi di Kota Besancon, Alpine. Bentrokan massa dan petugas juga terjadi di Toulouse.
“Kami mencoba berjuang, membuat suara kami didengar, selama enam bulan ini, dan tidak ada yang peduli. Rakyat tidak paham dengan gerakan ini meskipun terlihat cukup sederhana: kami hanya ingin hidup normal,” kata Florence, 58 tahun, seorang pelatih di sebuah perusahaan besar yang ikut unjuk rasa di Paris.
Baca Juga Berita Menarik Lainya:
- Dukungan Global Menguat: Austria Akui Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko sebagai Solusi Terbaik
- Dukungan Swiss Menguat: Inisiatif Otonomi Maroko Diakui Sebagai Solusi Paling Kredibel untuk Wilayah Sahara
- Honduras Resmi Bekukan Pengakuan terhadap “SADR”, Dukung Kedaulatan Maroko
- Inggris Tegaskan Dukungan pada Inisiatif Otonomi Maroko sebagai Basis Paling Kredibel bagi Perdamaian di Sahara
- Tren Keamanan Siber 2024: Langkah-Langkah Menghadapi Ancaman Ransomware yang Semakin Canggih
Macron, yang merupakan bekas bankir investasi berusia 41 tahun, mencoba menggelar reformasi ekonomi selama 18 bulan masa kepresidenannya. Upayanya ini mendapat perhatian dari para investor tapi menimbulkan kemarahan para pekerja, yang merasa kebijakan Macron hanya menguntungkan perusahaan besar. Padahal, rakyat mengalami kesulitan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.
Menteri Dalam Negeri Prancis, Christophe Castaner, seperti dilansir Channel News Asia, mengatakan ada sekitar 1000 – 2000 orang aktivis radikal yang mencoba membuat kerusuhan pada unjuk rasa Hari Buruh. Mereka merupakan anak muda yang tergabung dalam kelompok bernama Black Blocks. Mereka mengenakan penutup wajah dan mengenakan pakaian berwarna hitam.
Sumber: dunia.tempo.co