
Bukittinggi , HN– Suasana kawasan pusat kota Bukittinggi berubah menjadi panggung sastra terbuka yang megah. Pada Sabtu sore (6/6/2026). Tepat di halaman ikon kebanggaan masyarakat, Jam Gadang, digelar puncak acara penutupan International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) ke-4 dengan kegiatan spektakuler: Parade 100 Penyair Dunia.
Ratusan orang berkumpul di sekitar kawasan pedestrian untuk mendengarkan bacaan puisi dari para penyair yang datang dari berbagai penjuru tanah air maupun negara sahabat.
Acara ini sengaja digabungkan dengan rangkaian peringatan 100 Tahun Jam Gadang, untuk menyatukan nilai sejarah, budaya, dan kekayaan sastra dalam satu perayaan besar.
Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis, mengungkapkan rasa bangganya karena ikon kota yang berusia seabad ini kini tidak hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga menjadi tempat lahirnya inspirasi sastra.
Ia menjelaskan peran besar Jam Gadang bagi kehidupan masyarakat.
“Selama 100 tahun berdiri, Jam Gadang bukan hanya menjadi penanda waktu atau bangunan yang indah dipandang mata. Ia telah menjadi bagian dari jiwa dan sejarah kita. Sebagai simbol persatuan, Jam Gadang menyatukan beragam suku dan golongan di Bukittinggi. Sebagai saksi sejarah, ia melihat perjuangan leluhur kita membangun negeri. Dan hingga kini, ia menjadi penggerak ekonomi utama, di mana ribuan warga menggantungkan hidupnya dari sektor pariwisata yang berpusat di sini” ucap Ibnu Asis.
“Harapan kami, semangat 100 tahun Jam Gadang ini menjadi penyemangat kami bekerja. Pemerintah Kota Bukittinggi akan terus memperbaiki segala aspek pembangunan, memberikan pelayanan publik yang lebih cepat dan baik, serta memastikan kesejahteraan masyarakat kami semakin meningkat dari tahun ke tahun,” tegasnya.

Ketua IMLF ke-4, Sastri Bakry, dalam keterangannya menyebutkan bahwa keberhasilan festival literasi ini tidak lepas dari perhatian pemerintah daerah yang sangat peduli terhadap perkembangan budaya dan literasi.
“Kami sangat berterima kasih atas dukungan penuh yang diberikan Pemerintah Kota Bukittinggi. Tanpa dukungan tersebut, sulit bagi kami untuk menghadirkan kegiatan sastra sebesar ini. Alhamdulillah, IMLF ke-4 ini berjalan sangat sukses dan meriah, dan yang paling membahagiakan, kami bisa ikut serta memeriahkan peringatan 100 tahun Jam Gadang, sebuah kebanggaan tersendiri bagi kami para pegiat sastra dan literasi,” kata Sastri Bakry.
Dengan berakhirnya kegiatan ini, rangkaian IMLF ke-4 resmi ditutup dengan kesan mendalam, di mana sastra dunia bersanding harmonis dengan warisan sejarah bangsa di jantung Kota Bukittinggi. (Y/Red)