Peringatan 100 Tahun Jam Gadang: 1.700 Perempuan Tampilkan Keagungan Budaya Minangkabau

10 / 100 SEO Score
IMG 20260607 WA0004

Bukittinggi HN– Suasana meriah dan penuh nuansa budaya menyelimuti kawasan Pasar Ateh, Bukittinggi pada Sabtu (6/6/2026). Sebanyak 1.700 perempuan dari berbagai wilayah berkumpul dalam satu barisan, semuanya mengenakan busana adat Minangkabau yang indah dan beragam, dalam kegiatan Parade Perempuan Berbusana Minang.

Acara ini digelar resmi oleh Pemerintah Kota Bukittinggi sebagai bagian dari perayaan 100 Tahun Jam Gadang, sekaligus menjadi rangkaian utama International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) ke-4 tahun 2026.

Dalam sambutannya, Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, menyampaikan rasa bangganya atas partisipasi masyarakat yang luar biasa besar. Baginya, parade ini memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar peragaan busana.

“Kegiatan ini adalah wujud penghargaan terhadap nilai-nilai luhur yang diwariskan nenek moyang kita. Di balik setiap helai kain dan hiasan pakaian adat, tersimpan etika, sopan santun, dan jati diri orang Minang,” kata Ramlan.

Ia juga mengingatkan akan kedudukan penting Bukittinggi dalam sejarah Indonesia, mulai dari masa perjuangan, berdirinya PDRI, hingga menjadi pusat pendidikan dan kebudayaan. Karena sejarah yang panjang tersebut, ia berharap budaya daerah tidak hanya diingat, tetapi terus hidup dan diperkenalkan ke seluruh dunia.

“Lewat momen 100 tahun Jam Gadang ini, kita angkat nama Bukittinggi agar dikenal tidak hanya sebagai kota wisata, tapi kota yang kaya akan sejarah dan budaya,” tambahnya.

Ketua Koordinator Parade Perempuan Berbusana Minang, Suherni Syam, mengungkapkan antusiasme masyarakat ternyata jauh melampaui harapan panitia. Awalnya, panitia hanya menargetkan keikutsertaan sekitar 1.500 orang. Namun, karena banyaknya permintaan dari masyarakat, jumlah peserta akhirnya bertambah menjadi 1.700 orang yang datang dari kota-kota jauh seperti Batam, Palembang, hingga Pekanbaru.

IMG 20260607 WA0005

“Busana yang kami tampilkan, seperti Baju Basiba dan pakaian adat khas setiap nagari, bukan hanya pakaian biasa. Itu adalah simbol kehormatan, kesantunan, serta gambaran peran perempuan Minang sebagai limpapeh rumah nan gadang — tiang penyangga keharmonisan keluarga dan masyarakat,” jelas Suherni.

Kegiatan ini pun tercatat sebagai sejarah baru di pelataran Jam Gadang, menggabungkan semangat literasi, budaya, dan kebersamaan untuk melestarikan warisan leluhur Minangkabau di tengah arus zaman. (Y/Red)